43

Pengertian Birrul Walidain (Berbuat Baik Kepada kedua Orangtua)

Birrul Walidain? Sebenarnya mengapasih kita harus nurut sama bapak ibu kita, padahal mereka juga sama makan, sama mandi, sama dengan semuahal. Mengapa coba kita tetap harus nurut sama orangtua.

Mengapa kita harus menurut sama orangtua? Karena di dalam Al-Qur’an sudah menjelaskan dalam (QS:Al-Luqmaan : 41).

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَـٰنَ بِوَٲلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُ ۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٍ۬ وَفِصَـٰلُهُ ۥ فِى عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡڪُرۡ لِى وَلِوَٲلِدَيۡكَ

إِلَىَّ ٱلۡمَصِيرُ

Artinya :

Dan kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua orangtuanya  (bapak & ibunya) : ibu yang telah mengandungnya dengan menggunakan kelemahan demi kelemahan (dari awal mengandung hingga akhir menyusu) dan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa dua tahun : (dengan yang demikian) bersyukurlah kepada ku dan kepada bapak ibumu dan (ingatlah), kepada akulah juga tempat kembali (untuk menerima balasan). (QS. Al-Luqman : 24)

Maha suci allah yang telah menciptakan manusia dengan segumpal darah dan kemudian ia sempurnakan menjadi seseorang manusia yang ia jadikan sebagai “Kholifah” di muka bumi ini.

Tanda kutib “kholifah” adalah kita di muka bumi ini telah di tunjuk untuk menjadi seorang kholifah. Apaitu kholifah? Kholifah adalah seseorang pemimpin. ya kita ibaratkan saja pemimpin rumah tangga, pemimpin sekolahan, pemimpin negar (presiden), dan lain-lain sebagainya.

Sebenarnya kurang baik apasih allah itu kepada kita?’ Padahal allah telah menjanjikan kepada kita akan menjadi seoang kholifah.

Kebaikkan allah kepada kita itu ialah, ia selalu mengingatkan kita untuk selalu berbakti kepada orang yaitu bapak dan ibu kita. Allah swt telah menuntun kita kejalan yang baik yaitu dengan berbakti kepada orang tua, dan kita masih mau membantah perkataan orang tua? Na’uzubillah.

Ada hadist Nabi Muhammad tentang Birrul Walidain yang artinya:

Aku pernah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW amal apa yang paling di cintai oleh Allah? “Rosululloh bersabda” Sholat tepat pada waktunya. “Kemudian aku tanya lagi?” Bersabda Rosululloh “Berbakti kepada kedua orangtua” Aku tanyalagi?”. Jawab rosululloh “Jihad di jalan Allah”. (HR. Bukhori dan Muslim)|

Teman-teman ku yang Insya Allah di rohmati oleh Allah swt, di dalam hadist ini kita mengambil kesimpulan bahwa berbakti kepada kedua orang tua itu sangatlah di anjurkan oleh Rosululloh SWT.

Yang berkata untuk menghormati orang tua itu bukan hanya Nabi Muhammad SAW, akan tetapi Allah juga menyuruh kita untuk berbuat baik kepada orang tua kita. Dalam hadist Nabi Muhammad menjelaskan:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ

Dari Abu Hurairoh rodhiyallaahu’anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rosululloh shalallahu ‘alaihi wasallam dan ia berkata, ‘wahai Rosululloh, kepada siapa aku harus berbakti pertama kali|?

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Hadist ini juga di jelaskan oleh imam Al-Qurthubi, “Hadist tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat dibandingkan dengan seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya ada satu kali. Bila hal ini sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan ketika menyusui dan merawat seorang anak hal ini hanya di alami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, dan seorang ayah tidak memilik nya. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi X : 239. al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa ibu memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan ayah)

Begitu pula dengan Imam Adz-Dzahabi ra. Beliau berkata, beliau berkata dalam al-kabaair:

Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu.

Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu.

Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu.

Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik.

Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan.

Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu.

Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar.

Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan.

Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu.

Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat.

Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah.

Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek.

Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.

Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut.

Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.

Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin.

(Akan dikatakan kepadanya),

ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

“Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”. (QS. Al-Hajj : 10)

(Al-Kabaair hal. 53-54, Maktabatush Shoffa, Dar Albaian)

Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung.

Yah, kita mungkin tidak punya kapasitas untuk menghitung satu demi satu hak-hak yang dimiliki seorang ibu. Islam hanya menekankan kepada kita untuk sedapat mungkin menghormati, memuliakan dan menyucikan kedudukan sang ibu dengan melakukan hal-hal terbaik yang dapat kita lakukan, demi kebahagiannya.

 

Show Comments

No Responses Yet

masak sudah baca tidak mau comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.